Friday, January 21, 2011
Saturday, January 15, 2011
(2006, August) For some reason, love is hard
Thursday, October 21, 2010
hello friday !!
jogjajogjajogja
Wednesday, October 20, 2010
kisah klasik
Summer in seoul

Monday, October 18, 2010
Sebaiknya Dia Tidak Berbuat Sebaik Ini
Monday, October 26, 2009
untitled
Aku menempatkan diri pada posisi yang harus selalu mengerti atas semua sikap. Mendekatkan diri pada pihak itu dan berusaha melihat dari sudut pandangnya. Dan mungkin sekali lagi, aku bukan orang yang hanya bisa diam atas semua sikap melunjak dari pihak yang berusaha aku pahami.
Aku menyayangi semua sahabatku. Hingga saat ini, walau dulu aku sering berpindah-pindah sekolah. Aku masih menjalin kontak dengan mereka. Walau tak bisa semua direngkuh jadi satu. Aku bangga dengan kehadiran mereka. Percaya!! Aku akan begitu loyal dengan semua sahabatku yang bisa membuatku mempercayainya dan mereka juga balik mempercayaiku. Tapi jangan pernah membuatku merasa dikhianati, karena memaafkan itu mudah tapi melupakan itu terlalu sulit selama aku tidak hilang ingatan, jiwaku masih waras atau aku belum mati.
Entah kenapa aku lebih memilih mendengarkan saran dari mereka daripada mendengarkan isi hati atau berpikir sendiri. Ya mungkin juga karena sekarang aku sudah tak punya hati dan otak.
Kesan pertama tentang penilaian orang memang selalu buruk tentangku. Mungkin karena ekspresi friendly itu susah dibentuk, mungkin juga karena aku agak sedikit tak perduli dengan lingkungan. Tapi percaya saja aku akan berusaha berubah setelah semua mau mengenalku lebih jauh.
Aku sering di kondisi dimana aku tak mengenal seorangpun. Tak ada satupun yang bisa diajak bicara. Mungkin juga karena masalah bahasa. Tapi bersahabat itu bukan dengan bahasa, tapi dengan hati ternyata.
Aku terlalu sering menyakiti sepertinya. Sebenarnya bukan itu maksudnya. Aku hanya ingin semua juga balik mengerti aku. Aku tak bisa hanya diam dengan keadaan yang menyakiti mereka dan juga menyakiti mereka-mereka lainnya.
Aku bangga dengan mereka yang hadir di masa taman kanak-kanakku. Berbagi perosotan, berpegangan tangan membentuk lingkaran, berbagi kue cincin, berbagi crayon, berbagi meja kecil untuk menggambar, saling bergantian mendorong diayunan, bercanda di jungkat jungkit, dan berlarian dihalaman saling mendorong tapi kemudian saling berusaha meraihnya bangkit lagi.
Aku tak pernah bisa melupakan sekolah-sekolah dasarku. Palangka 12, siderejo 1, banjarbaru kota 9. Aku belajar budaya. Aku sekali lagi belajar bersahabat itu dengan hati. Aku belajar berbagi seperti saudara. Aku belajar untuk selalu beradaptasi. Aku belajar bagaimana bercerita.
Dimasa sekolah menengah pertamaku. Mungkin terlalu apatis. Aku merasa begitu bersalah dengan banyak orang. Aku begitu tak perduli dengan lingkungan. Aku hanya merasakan aku dan jalan hidupku saja. Ya mungkin karena aku terlalu membawa masalah yang seharusnya tak kuhadirkan ditengah mereka. Maaf buat semua. Maaf juga untuk seorang sahabat lamaku. Persahabatan itu akan lebih bertahan lama daripada semua hubungan yang lain bukan??
Terimakasih untuk putih abu-abuku. Terimakasih untuk semua perjalanan cerita. Terimakasih untuk semua rengkuhan dipundak ketika ternyata aku harus menangis. Aku sebenarnya sudah tau rasanya dikhianati tetapi aku tau bukan kita yang memilih cinta tapi cinta yang memilih semuanya, aku bangga sudah menjadi orang yang turut hadir dalam cerita itu, percaya aku takkan mengganggunya, kalian sahabatku, kita sudah saling ikhlas bukan?? Terimakasih untuk ajarannya tentang kedewasaan. Mungkin kita bersama dengan jangka waktu yang lama, sehingga kita bisa saling mengerti tentang semua hal yang semua orang diluar sana tak tau. Aku tau rasa itu ada dalam sebuah persahabatan ternyata, bukan karena hal yang indah diawal, tapi lebih kepada semua hal yang buruk yang saling diketahui.
Bukan hal yang mudah ketika sebuah kenyataan mengejar dan menuntut sebuah penyelesaian. Ketika diri hanya bisa berlari menjauh, semua konsekuensi atas patah hati bukannya harus diterima? Tempat baru seperti ini bukanlah tempat yang tepat sebenarnya untuk melupakan semuanya, karena walau berbeda, waktu yang berjalan dikedua tempat itu sebenarnya dalam bentuk yang sama, tak ada yang relevan atas keduanya.
Saat ternyata perguruan tinggi menjadi pilihan berikutnya, menempuh hal yang bisa membuat sunggingan kecil untuk mereka yang mencintaiku. Tak apalah mengorbankan hati yang terkadang masih harus berpaling menatap kebelakang. Ditempat baru ini, ketika semua luruh satu persatu. Pencarian akan sahabat itu akan berlanjut bukan? Sebuah cerita indah berawal dari semua perkenalan, menjadi satu dan berbagi. Suka duka itu ada bukan, dan itu memang untuk dibagi, bukan untuk dipendam dan kemudian menyakiti hati yang lain.
Kalian tau? Ketika aku bercerita semua hal yang aku lihat pagi ini dan apa yang terakhir aku lihat malam ini. Aku akan selalu berbagi, walau terkadang sepele, itulah sebenarnya awal keterbukaan dan kepercayaan.
Aku pernah kehilangan seorang sahabat. Entah karena itu salahku atau salah keadaan yang mebuat kami tak bisa berbagi hal yang memang tak bisa dibagi. Itu dulu, dan sekarang aku tak mau itu terjadi lagi. Tapi ternyata salah. Hahaha… mungkin aku hanya bisa menertawakan kebodohanku untuk kedua kalinya. Aku hanya ingin berusaha jujur dengan semuanya, walau terkadang kita memang harus tetap berbohong untuk sebuah kebahagian sendiri atau orang tertentu.
Aku tau setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Semua punya kepribadian yang terkadang memang tak terbaca oleh banyak orang, hanya mereka yang bersama dalam waktu tertentu yang tau. Dan ternyata terkadang memang ada kemunafikan. Fakta itu bisa dimanipulasi ternyata.
Didalam kisah ini peran antagonis diperankan mereka yang terlihat tertindas, bukan mereka yang berkuasa. Peran antagonis dalam cerita ini sebenarnya mereka yang tak ada pengikutnya, bukan mereka yang bersatu untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Mulut manis itu bisa saja selalu berkata hal-hal yang bisa menjatuhkan harga diri. Bukan permintaan maaf yang diminta, tapi hanya keadaan semula sebelum mulut besar mereka itu menyebarkan hal yang hanya berdasarkan otak kerdil mereka yang hanya bisa berpikiran picik itu saja.
Percuma air mata itu mantan sahabatku! Karena aku lebih dahulu menangisi keadaan yang kau ciptakan untukku. Aku takkan pernah terenyuh dengan semua penuturan polosmu! Aku juga takkan pernah simpati dengan semua cerita sedihmu tentang jalan kehidupanmu. Mantan sahabatku, aku hanya ingin kamu tau. Kau terlalu naïf menjalani kehidupan, kau tak pernah menjalani pahitnya jatuh dan bangun dalam keadaan yang tak mendukung, ujian hidupmu tak ada apa-apanya, dan karena itu ketika hari ini semuanya menghampiri, kau hanya bisa menjerit meminta semua simpati dan mengimbaskan kesakitan hatimu akan sebuah kehidupan kepadaku.
Awalnya aku bisa mengerti. Tapi aku terlalu sakit hati ketika tau kenyataan. Percuma kau memutar balikkan fakta didepan semuanya, Karena wajahmu yang sebenarnya sudah terlihat. Entah kapan, tapi pasti kau akan ditendang kepojok ruangan dan semua orang melemparimu dengan pandangan ketidaksukaan mereka. Terserah kau menilai apa kesakitan hatiku ini. Aku tak perlu maaf darimu. Karena aku tak ada salah untuk semua ini. Hanya asumsi liarmu yang tak bermoral itu saja yang kau jadikan patokan untuk menjatuhkan aku kini. Aku juga tak pernah mendapatkan alasan kau melakukannya ini padaku.
Tetapi selamat!! Kau sudah bisa menipu kami semua!
Peduli gila dengan semua penjelasanmu, peduli gila dengan semua pertanyaan sok perhatianmu kepadaku, peduli gila dengan semua orang yang juga tak punya otak seperti kalian.
Dan untuk itu aku tak pernah bisa tidak kembali menyayangi sahabat-sahabat yang selalu menjajari langkahku dan mereka yang selalu bersedia merengkuh pundakku ketika aku menangis. Aku tau aku terlalu banyak mengeluarkan air mata untuk menangisi sahabat yang tak pantas untuk setiap tetes air mata kita semua.
Seperti yang aku tulis diawal. Aku akan selalu membalas apa yang kalian berikan untukku lebih dari yang terharapkan atau yang dikira.
Terimakasih untuk semua yang hadir dari semua segmen kehidupanku.
Tuesday, October 13, 2009
Lelakiku
Friday, September 04, 2009
a note on sunday morning
Wednesday, July 01, 2009
Because I'm Stupid
Aku dapet lirik lagu ini dari seorang temanku (yang tak mawu disebutkan namanya disini) dan aku juga tak begitu mengerti maksud dan tujuannya mengirimkan lirik itu. Mungkin karena kami bedua memang sama-sama bego, seperti judul lagu ini. :)
Entah lah sapa yang nyanyiin,akhir-akhir ini aku kurang begitu update sama perkembangan zaman soalnya. Tapi karena liriknya lumayan bagus dan aku tau "orang-orang yang akan aku tag disini pernah atau sedang atau akan merasakan hal yang menjadi inti dari lirik lagu itu" hehe :), jadiii apa salahnya berbagi.. :P
Enjoy it guyssss....
BECAUSE I’M STUPID
I’m really very foolish
I know of no one other than you
You’re looking at someone else
Yet you have no idea of my feelings like this
I won’t be in your days
I won’t be in the memories either, however
Only you, I looked only at you
And the tears keep coming
As I watch you walking past, I’m still happy
Even yet you still don’t know my heart
I should stop this and go
I really want to see the day
I’m withstanding the pain each day
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby, I love you, I’m waiting for you
I won’t be in your days
I won’t be remembered either, however
Only you, I looked only at you
I’m making memories alone
Loving you is like having a beautiful wound
I look at your pretty smile also
But I cannot laugh with you
I’m thinking about you so much everyday
My heart is hurting in all these sad days
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby, I’m waiting for you, I love you
Bye bye, never say goodbye
Even though I cannot hold you like this
I need you, I cannot say anything more, I want you
I keep on hoping too, I’ll keep hoping.
I really want to see the day
I’m withstanding the pain each day
Alone once again, crying for you
I’m thinking about you so much everyday
My heart is hurting in all these sad days
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby, I’m waiting for you, I love you
Yup, lirik itu sebenernya simple aja. Gak perlu bahasa yang puitis untuk mengguratkan apa yang sebenarnya hati rasakan. Karena sebenarnya bahasa yang terlalu puitis terkadang membohongi hati yang memang sederhana untuk mencinta.
Kalian pernah merasakan ada disatu masa semuanya berasa hampa??
Sibuk mengerjakan hal sia-sia yang sebenarnya hal itu ditujukan untuk melupakan hal yang sangat menyakitkan??
Saat ini, mungkin waktu, jarak, keadaan, dan hal yang menyibukkan tak cukup untuk menghapusnya semudah itu. Menyakiti diri dan mengorbankan semua hal yang mungkin saja didapat diluar itu ditinggalkan dan disia-sia.
Hari pertama aku tau semua hal yang ada didiriku dan dia berubah, ada sedikit pemunafikan. Semuanya belum bisa diterima begitu saja. Rasa yang ada berubah 180 derajat dari sebelumnya.
Sebelumnya, mata beradu dan saling memahami apa yang saling disampaikan bisa diterima. Tapi setelah itu, ada perdebatan batin dahulu sebelumnya.
Tangan yang berpaut untuk saling menguatkan jalan sebelumnya.Setelah itu, bergetar ketika harus saling bergenggaman.
Jauh hari-hari dilalui dengan semua percikan dan senyuman, ternyata harus berakhir seperti ini. Sebenarnya, ini bukan diakhiri secara tiba-tiba. Perlahan tapi semuanya pasti terlepas dan terhapus olehnya. Sedangkan aku sini hanya bisa tersenyum kecut melihat kebahagiannya.
Aku bukan tak ingin dia bahagia. Kebahagiaan apalagi yang paling sempurna selain melihat orang-orang yang kita cintai dalam keadaan bahagia??
Sebenarnya aku tetap ingin bertahan memerankan aku seperti biasa, kembali beracting seakan tak terjadi ada apa-apa.
TOO HARD TO TRY IT
Wednesday, June 24, 2009
about past (hurting now)
Dulu, kata oma, pokoknya kata semua orang. Bapa aku memang gak menemani proses persalinan mama. Bapa dilarang masuk ama opa buat nemenin mama. Alasannya sih simple, katanya takutnya malah bikin heboh (heboh?? kabar-kabari.. aku anak pertama dan akan menjadi cucu cewe satu-satunya. Mungkin faktor itu ya yang ntar kemungkinan bapaku heboh ndiri. hahaha.. wajar si). Alhasil mama cuman ditemani dokter serta perawat-perawatnya buat ngeluarin paksa diriku. Ya memang agak sedikit dipaksa karena aku itu katanya rewel banget!! Gak mau lahir-lahir.. hehehe Sementara opa beserta keluarga lainnya menunggu diluar buat nenangin bapa yang katanya udah kasak-kusuk gak karuan. Dan skali lagi aku mengadakan pembelaan buat bapa, ya wajar lah. Siapa juga yang gak bakal panik pada saat kelahiran anak pertamanya??? Gak ada yang bercerita lagi tentang kejadian setelah kelahiranku. Ya, paling-paling nangas-nangis bahagia gitu, ya kayak umumnya lah pokoknya.
Setelah dua minggu aku menghirup sesaknya udara tahun 89an, aku harus dibawa paksa ke suatu pelosok pulau kalimantan karena bapaku ditugaskan disana, dan sebagai istri yang baik mamaku harus mengurusi suaminya kan?? Dian kecil dibawa ke perjalanan berat nun jauh ke suatu tempat yang bernama Pagatan. Mungkin keadaan medan jalan ke sana gak semudah sekarang. Tempat indah nan eksotis dipinggir pantai itu harus dibayar dengan perjalanan yang super berat. Dian kecil tumbuh disana sekitar 2,5 tahun, dipinggir pantai, dan gak aneh aku sekarang suka pantai. Sehabis itu aku digotong lagi menyebrang, ke sebuah pulau dengan ibu kota daerahnya kotabaru. Entah lah itu kecamatan atau kabupaten. Yang pasti, kehidupan dian kecil kembali bergelut dengan yang namanya perpantaian.
Hingga usia sekolah Taman kanak-kanak, aku kembali nomaden ke daerah kalimantan tengah, Pangkalan Bun. Daerah yang doyan banget banjir itu menjadi saksi kepolosan kehidupan dian kecil (yang sekarag udah gak kecil lagi). Gak lama aku mengenal tempat aneh itu (anehh.. sumpah... masa iya beli pisang dijual kiloan???), aku kembali harus pindahan lagi. Masih didaerah Kalimantan Tengah sih, tapi jaraknya naujubillah jauh bangett booo dari Pangkalan Bun itu. Ya tapi gak apalah, akhirnya bisa tinggal di ibu kota provinsi yang pastinya perkembangannya lebih maju ketimbang cuman daerah kabupaten atau kecamatan.
Tapi waktu Bapa ku kembali dipindah tugaskan, aku masih duduk di bangku TK Nol gede. Karena semua urusan pindah-pindah itu ribet, maka aku dititipkan di Banjarbaru, kebetulan Bapa sudah menyiapkan rumah disana. Dan mulai dari sini lah inti dari cerita (baca: curhat colongan) note ini.
TK Nol gede aku disekolah kan di TK teratai di belakang komplekku. Yang sekarang di daerah UNLAM, disebelah asrama wasaka. Mulai saat itu aku mulai belajar mandiri, belajar hidup jauh dari orang tua. Anak kecil yang harus survive sendiri dan dengan bimbingan jauh dari orangtuanya. Aku ingat banget, dulu jarang ada hari dimana aku bisa bareng mama bapaku. Mungkin dulu aku belum ngerti apa itu artii sebuah keluargaku. Yang aku tau dulu hanya sekolah dan setelah sekolah makan terus main, terus itu pulang-pulang mandi, makan lagi, trus tidur. Saat itu aku bisa enjoy dengan keadaan itu, bisa terima semuanya. Mungkin benar memang dunia anak-anak itu gak jauh-jauh dari yang namanya dunia bermain. Jadiii... gak ada lagi pemikirannya selain ke sekolah dan pergi bermain.
Melanjutkan sekolah ke bangku sekolah dasar, mungkin karena gak tega melihat aku akan berkembang jiwanya tanpa bimbingan kedua orangtuanya, alhasil aku diboyong ke Palangkaraya. Walau sudah tinggal dimana orangtuaku bertugas, gak serta-merta aku bisa punya waktu penuh bersama kedua orangtuaku. Keduanya masih sering bepergian mengurusi tugasnya dan tanggung jawabnya masing-masing. Dan sekali lagi, dian kecil waktu itu hanya memegang teguh suatu hal tentang 'dimana saja dan sedang apa saja. orangtua itu selalu menyayangi dan akan trus berdoa untuk anaknya'. Dan aku gak pernah protes dengan keadaan itu.
Pada fase setelah itu, mulai ada percikan kecil di kehidupanku. Setelah suatu kecelakaan speedboat, mama harus dirawat di Surabaya, yang aku tau waktu itu harus berpisah lagi dengan kedua orangtuaku. Walau aku tetap mereka bawa ke Tulungagung untuk bersekolah disana yang kalo dihitung-hitung lebih dekat dengan surabaya ketimbang harus menitipkan aku dibanjarbaru.
Waktu itu Bapa kesana-kemari mengurusi kami berdua, aku dan mamaku. Kerjaannya di Palangkaraya dia tinggalkan begitu saja, mungkin pikirannya saat itu hanya tertuju kepada istrinya dan anaknya saja. Hingga kini aku masih ingat bagaimana perjuangan seorang suami yang juga seorang bapa memenuhi perannya. Sampe kapanpun, pelajaran, pengalaman, dan sedikit trauma pada waktu itu gak akan pernah terhapus di memory ku. Aku ingat, seringkali aku melihat Bapa tiba dari surabaya sore hari bertepatan dengan pulang sekolahku (SD ku itu buat anak-anak kelas 1,2, dan 3 masuk siang), dengan senyum khasnya, dia menyambut kepulanganku lalu memelukku dan langsung memberikan oleh-oleh yang dia beli dijalan, dulu sering banget dibawakan tahu yang dipotong kecil-kecil dibungkus, trus rasanya agak asin, yang warnanya kekuningan, yang biasanya dijual di angkutan kota di jawa timur (yang sering naek bis kota didaerah jawa timur pasti tau). Aku kadang cuman meringis menerimanya, tapi tetep memakannya sambil bercerita kehebohanku disekolah. Biasanya hal yang aku ceritakan tentang betapa bergunanya bahasa tubuh itu, karena aku yang gak bisa bahasa jawa waktu itu hanya menggunakan bahasa rimba itu untuk melakukan interaksi ke teman-teman yang kebanyakan susah banget klaau diajak ngobrol pake bahasa indonesia. Biasanya malam menjelang, aku terus saja mengekor kemana bapaku pergi. Sampe shalat atau mandi aja aku tungguin!! Kalau tiba waktunya tidur, aku gak bakal tidur kalau gak ditemenin. Okeyy.. aku emang manja waktu itu. Cerita pengantar tidur waktu itu bukan cerita tentang putri tidur atau Cinderella atau cerita yang selalu berakhir dengan kebahagiaan pemeran utamanya. Tetapi tentang cerita untuk bisa tetap ceria, tetap bisa bertahan dengan keadaan yang gak menentu saat itu, tetap bisa menjalani hariku sewajarnya, bertahan dengan segala hal yang sedang dihadapi. Aku cuman dijelaskan kalo saat itu adalah cobaan hidup. Kalau bisa menjalaninya aku bakal dapat hadiah setelah itu. Okelah, yang aku pikirkan hanya sebuah hadiah nyata, maksudnya sebuah barang gitu. Ahaha,, begog juga aku waktu itu. Tapi aku tetap tertidur dengan dongeng pengantar tidur jenis itu, lalu paginya aku terkadang tak menemukan Bapaku disebelahku, dan pasti setalah sadar Bapa kembali ke Surabaya, aku mengambil bantal lalu menutup muka sambil menangis sekenceng-kencengnya. Weekend?? Hahaha,, apa itu weekend?? Yang aku tau habis hari sabtu itu ya hari senin.
Setelah semuanya bisa kami bertiga lewati, benar juga kata Bapa. Pasti ada suatu hal yang manis yang bakal kita kecap. Walau kami gak bisa berkumpul, karena bapa harus meneruskan dinasnya ke Palangkaraya, sementara itu aku dan mamaku tinggal di Banjarbaru. Dan skali lagi aku harus bisa menjalani hari tanpa ditemani secara fisik oleh kedua orangtuaku lengkap.
Bapa baru dipindah kerja di Banjarmasin saat aku SMP, mungkin ini sebuah hadiah yang dulu sering aku minta ke Allah. Buat bisa bersama, dan akhirnya Allah mengabulkannya.
Gak lama aku bisa tinggal lengkap bersama (yah kalo dibandingin dimana aku mesti pisah-pisah hidup sendiri-sendiri dengan kedua orangtuaku), sekarang aku harus kembali meninggalkan mereka. Ya kali ini aku yang memutuskan untuk keadaan ini. Untuk alasan cita-cita sebenernya.. Kali ini mungkin akan lebih berat. Gak ada lagi yang namanya setiap minggu bisa ketemu, gak ada namanya setiap bulan bisa ketemu. Yang ada hanya waktu lebaran dan liburan semester bisa pulang!!
Sebenernya dengan alasan aku bercerita sangat panjang lebar seperti ini. Buat mereka-mereka yang selalu punya alasan untuk melakukan atau untuk tidak melakukan sesuatu. Jangan pernah bangga dengan cerita kalian-kalian sekarang ini.
Jangan pernah melebihkan keadaan dan selalu berbuat semaunya dengan alasan cerita diatas yang tenyata hanya kalian-kalian alami sekarang. Aku pernah ada dalam fase dimana kalian-kalian rasakan sekarang. Dan kembali merasakannya saat ini. Jauh dari orang tua, mengurusi diri memang sepenuhnya dengan kesadaran diri. Jangan pernah berlagak didepan ku seolah kalian-kalian yang hanya pernah menderita, yang sok menasihati karena merasakan hal itu.
Cape aja selalu toleran dengan kalian-kalian, sedangkan aku selalu harus disepelekan. Dipandang sebelah mata. Dan dianggap menjadi anak yang selalu bahagia dengan kehidupan masa kecilnya. Dan akhirnya dianggap tak pantas untuk dihargai sebagai manusia yang punya pengalaman hidup.
Huff… jika kembali kepada narasi ceritaku. Sepertinya aku harus memiliki banyak waktu untuk bersama. Banyak waktu yang ternyata terbuang dengan semua jalan yang dijalani. Aku gak berani bilang itu cobaan hidup. Karena hari ini aku mengalami hal yang membuatku tak ada satupun orang yang berhasil memotivasiku.
Kadang aku hanya bisa menangisi hal yang sudah terjadi di masa laluku, melihat kesekitar dengan semua orang yang berbahagia bersama keluarga mereka. Sebenarnya jika bukan sekarang, kapan lagi akhirnya aku harus bisa terus bersama kedua orangtuaku. Aku perempuan yang terkadang harus mengikuti kemanapun suaminya pergi, dan memang seharusnya demikian kan??
Mungkin separuh lebih dari umur kehidupanku, aku lebih banyak hidup sendiri. Jika aku harus terus mengingat dari bagian kehidupanku yang dulu, hanya terlintas sedikit aku tersenyum, walau aku tau itu rasanya tulus dan memang aku merasakan yang terbaik dari semua senyum yang ada didiriku hingga saat ini.
Aku sepertinya meminta begitu banyak. Aku tak tau bagaimana lagi harus mengulangi masa lalu yang harus aku buang dengan segala macam bentuk traumatis dari segala kejadian yang belum bisa aku toleran. Aku bukan menyesali takdir, aku hanya menangis aku tak bisa mendapat berkeranjang-keranjang senyuman yang pada hari ini bisa menjadi motivator ku.
Love you mom, love you dad.. maaf untuk tulisan ini :(


